[ 私の友人 ]

[ Hey! Say!JUMP ]


I made this widget at MyFlashFetish.com.

Senin, 28 Februari 2011

Profil Personel Hey! Say! JUMP

INI dia profil singkat para personel boy band serbabisa asal Jepang yang bikin cewek-cewek menjerit-jerit:



  
Yabu Kota (31 Januari 1990).
Leader yang penuh perhatian dan tahu kapan harus serius dan santai. “Awalnya enggak ada leader, tapi kemudian semua menganggap saya leader. Ya, sudah,” katanya kocak. Meski hasratnya terhadap musik sangat tinggi, Yabu punya impian berperan di online game. Sebelum bergabung, Yabu menjadi penari di konser Tackey & Tsubasa. Ia berpengalaman menjadi leader grup Ya-Ya-Yah. Pemilik suara tinggi ini sangat dekat dengan Jin Akanishi dan pernah merebut gelar polling “The Most Wanted Little Brother”. Konon Akanishi pernah berharap mengadopsinya sebagai adik, hehehe.

 

Takaki Yuya (26 Maret 1990).
Meski terbilang senior, dengan rekan-rekan mudanya di kekanakan Takaki sering meramaikan suasana, apalagi dia selalu punya masalah dalam kerapian berbicara. Sempat kesulitan dalam koreografi, berkat bantuan teman-teman dan kerja kerasnya, dia mampu mengatasi. Sangat suka menonton DVD, tapi tiap ada waktu istirahat malah memilih untuk pergi ke tempat favoritnya: pantai! Pantas, Takaki mengaku personel paling melankolis. Suka menyendiri sih!


  
Inoo Kei (22 Juni 1990).
Bekalnya sebagai anggota HSJ bukan cuma suara, tapi kemampuan main piano dan gitar. Kei paling suka mempelajari kata-kata dalam bahasa Inggris. Lucunya, tiap ditanya mata pelajaran paling dibenci, selalu menyebut matematika dan bahasa Inggris. Dalam banyak kesempatan, Kei menceritakan betapa dekat dan sayangnya dia pada adik perempuannya.



Yaotome Hikaru (2 Desember 1990). 
Memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Perannya di HSJ dan Ya-Ya-Yah hampir mirip, mendukung peran Yabu sebagai leader. Dia bercita-cita menyanyikan lagu yang dikarangnya sendiri. Meski punya kemampuan cukup mumpuni, Yaotome punya kebiasaan yang sulit dihilangkan yakni berkeringat saat tegang menanti konser dimulai. Tapi kalau sudah beraksi dengan bas di tangan, Yaotome tampil cadas di atas panggung. Kemampuannya mengomposisi lagu dan menulis lirik juga sangat diandalkan.



Arioka Daiki (15 April 1991). 
Mengikuti audisi berbarengan dengan Chinen Yuuri dan menjadi sosok kakak yang dipuja Chinen. Saat sekolah sangat jail dan suka mengikuti banyak acara di sekolah. Ia pernah mengikuti lomba maraton dan bermain rugbi. Cara tertawanya menjadi ciri khas. Arioka sangat suka mempelajari banyak hal dari para senior di Johnny’s Entertainment. Bersama Nakajima Yuto, muncul dengan nama Engine. Dia juga memiliki kemampuan mengomposisi lagu dengan baik.



Nakajima Yuto (10 Agustus 1993).
Dianggap leader di Hey! Say! 7 karena sangat sabar dan tenang. Yuto banyak membuat iri sesama personel karena tinggi badannya. Yuto bergabung dengan Johnny’s Jr 28 Maret 2004, saat duduk di tingkat 5 SD. Yuto memilki keterampilan berakting dan pernah tampil dalam drama di 24 Hour Television bersama Kamenashi Kazuya dan Yamashita Tomohisa. Dia juga pernah bermain dalam Primadam, tahun 2006.



Okamoto Keito (1 April 1993). 
Sering disangkut pautkan dengan sang ayah, Okamoto Kenichi. Tapi Keito selalu bilang, dia lolos masuk HSJ atas usahanya sendiri; terbukti survive sampai sekarang. Bias Keito sering menyebutnya English Prince, karena di usia 9 tahun dia dikirim ke sekolah asrama di Suffolk, Inggris. Selain menyanyi dan menari, Keito suka bermain gitar dan pernah memperlihatkan keterampilannya bersama Yabu di konser HSJ. Dalam beberapa momen, Keito kebagian part yang mengharuskan HSJ berbahasa Inggris.



Yamada Ryosuke (9 Mei 1993). 
Yamada pertama muncul di TV di usia 11 tahun, di variety show Ya-ya-yah, saat audisi Johnny juga digelar. Lulus seleksi, dia tampil perdana lewat drama TV Tantei Gakuen O Special. April 2007, Yamada terpilih menjadi anggota grup temporer Hey! Say 7 yang menjadi cikal bakal HSJ, sebelum resmi menjadi anggota HSJ September 2007. Yamada sangat cinta menyanyi dan menari, serta selalu datang tepat waktu untuk rapat, latihan, dan sebagainya. Dia sangat sensitif, tapi juga dikenal sebagai pembicara sulung saat wawancara.



Chinen Yuuri (30 November 1993). 
Sejak kecil tidak bisa diam. Chinen aktif menari balet jazz, kemudian berlatih senam, dan sudah mampu melompat dalam berbagai gerakan. Keterampilan Chinen berakrobat sering diperlihatkan di atas panggung dan mendapat pujian dari idolanya, Ohno Satoshi. Citacitanya bisa memancing dan tampil dalam drama musikal bersama Ohno.



Morimoto Ryutaro (6 April 1995).
Perannya tak cuma mengisi suara dan tarian, tapi juga sebagai penyemarak grup. Itu karena Morimoto anggota termuda. Masuk sebagai anggota Johnny’s Jr saat berusia 9 tahun membuatnya terbilang muda, meski HSJ telah memasuki tahun keempat. Kasus penguntitan dan perampokan yang dilakukan fans yang mengikutinya selama 6 bulan,  pernah menggemparkan Jepang. Dia diancam dengan pisau danponselnya diambil si penggemar yang diduga stres. Untungnya Morimoto selamat dan sejak itu Johnny Entertainment memberlakukan perlindungan ketat pada bakat-bakatnya.



Yaiiiiii~ Hey! Say!JUMP Is The Best^^

Hey! Say! JUMP, Popularitas Tak Mengubah Warna Persahabatan


TUMBUH bersama, mengejar mimpi yang sama, dan akhirnya sukses merupakan kisah manis yang ingin diraih anggota boy band manapun.
Tak sedikit yang mampu mewujudkan cita-cita itu, tapi banyak di antara mereka yang melupakan manisnya kebersamaan ketika popularitas diraih.
Personel Hey! Say! JUMP (HSJ) contoh yang mampu merajut kekompakan, mengharmonisasikan kesuksesan grup dan individu.
Sejak terbentuk tahun 2007, personel HSJ tetap ramai, saling menggoda dan menjaili, saling mengapreasiasi, dan tentu saja saling menyayangi layaknya saudara.
Tiap Anggota Memainkan Peran Dalam Persahabatan Yang Kian Erat
Tidak ada boy band yang tidak punya kisah di balik layar. Kecemasan, rasa haru, khawatir, sedih, kesepian, hingga air mata pasti pernah dirasakan tiap remaja yang melakukan masa pelatihan.
Bagi cowok-cowok HSJ, rasa itu juga ada. Tapi biasanya susah senang, bukan cuma mereka sendiri yang mencicipi. Dalam kesulitan selalu ada teman di samping mereka.
Digambarkan tiap anggota HSJ, awalnya hubungan mereka canggung. Tapi lambat laun kebekuan mencair.
Kesulitan macam apa yang mereka temui di awal karier? Okamoto yang dikenal sebagai pekerja keras, dag-dig-dug bukan main sejak manggung dalam konsep junior.
“Takut orang bilang, ‘Oh si Okamoto kok bisa debut juga?’” ujarnya kepada majalah Myojo, Desember 2008. Maklum Okamato sering dihubung-hubungkan dengan ayahnya, Kenichi Okamoto, mantan anggota grup rock keluaran Johnny’s Entertainment, Otokogumi.
Si bungsu Morimoto merasa gerakan belum semulus dan sesiap teman-temannya, juga diterpa keraguan di awal karier. Pengalaman Inoo lain lagi.
“Saat dipanggil nama kami satu per satu di tiap konser, rasanya enggak menyangka nama saya ikut dipanggil. Sepertinya saya ingin pulang saja (saking gugup).” Juga dirasakan Yaotome Hikaru dan Nakajima Yuto. “Momen debut terasa terlalu besar untuk saya,” kata Nakajima. “Nervous. Senang,” kenang Takaki Yuya.
Di situlah Yabu Kota berperan. “Saya yang tertua dan harus siap membuat yang lain nyaman,” terangnya. Yabu dibantu Hikaru Yaotome, dengan kompak mendorong yang lain untuk menyelaraskan langkah. Dan berhasil! “Saya dulu ingin semua bisa sejajar,” kata Yaotome.
Tapi kepedulian sesama anggota tidak cuma sampai di situ. Ingat, Yabu Kota khawatir setengah mati melihat Chinen Yuuri melakukan aksi flying trapeze di Summary 2010.
Mungkin itu cuma secuplik kisah yang tertangkap kamera. Di luar itu pastilah ada banyak kisah yang lebih “dalam” yang luput dari pantauan. Awalnya HSJ tidak mengenal kata leader. Namun karena Yabu Kota punya cukup pengalaman dan anggota tertua, banyak orang menyebutnya leader.
“Ketika melihat grup lain (Arashi, KAT-TUN dll) saya baru sadar semua anggota tertua didapuk menjadi leader. Ya, sudah inilah saya,” terang Yabu Kota.
Kompak dan Lebih Terasa Seperti Keluarga
Tumbuh bersama sebagai satu grup sudah barang tentu membuat mereka dekat. HSJ ruamh mereka, tempat mereka kembali meski sudah melanglang dengan karier solo. “Jump benar-benar hangat. Meskipun saya punya banyak aktivitas, saya selalu kembali ke Jump dan merasa nyaman. Inilah yang terbaik,” terang Yamada Ryosuke, cowok kelahiran 9 Mei 1993.
Persahabatan mereka membuat mereka seperti keluarga. Chinen Yuuri menemukan “kakak” yang dikagumi pada sosok Daiki Arioka. Bahkan kisah soal dia suka duduk di pangkuan Daiki Airoka sudah tersebar luas.
Chinen Yuuri juga dengan polosnya menyebut nama Yamada Ryosuke ketika sesi wawancara dengan Ohno Satoshi. Dan bersemu merah begitu ditegur Ohno.
Kisah persaudaraan di HSJ yang paling membuktikan kekompakan mereka saat terjadi serangan fans fanatik HSJ. Yamada Erika (namanya gabungan antara nama marga Ryosuke dan namanya sendiri—red), yang berkemah di depan rumah Ryo, menguntit ke mana Ryo pergi.
Lebih parah  secara diam-diam memasang kamera tersembunyi di sekitar rumah Ryo. Mungkin sebegitu cintanya, tapi tak ayal Erika menerima gelombang protes sesama penggemar. Termasuk dari Ryo dan rekan-rekannya di HSJ.
“Kenapa mesti kemah di depan rumah saja, menanti saya? Saya juga ingin pergi ke sekolah. Tapi kenapa segala sesuatunya berlebihan. Jika penggemar, seharusnya tahu apa artinya itu untuk saya,” keluh Ryo kecewa.
Nakajima Yuto ikut membela. “Kenapa mesti memasang kamera tersembunyi di rumah Yama-chan? Kenapa memburu dan mengikuti kami? Ayolah ikuti saja dengan cara biasa,” pintanya. Inoo Kei bilang.
“Bukan berarti  fans bisa berbuat sesukanya.” Ya, HSJ bisa sangat tegas, tapi juga sangat manis kepada penggeamr. Terbukti mereka memberi kado terindah kepada penggemar lewat lagu “Arigatou Sekai no Doko ni Itemo” “Tiap tahun kekompakan kami bertambah 2 persen,” canda Yamada Ryosuke.
“Enggak apa-apa, yang penting dalam kerja sama 100 persen,” pungkas Nakajima. So sweet.